Pengurus Harian Komunitas (PHKom)
Wilayah Pengorganisasian PHKom Morodina berada di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Sejak tahun 2019, komunitas Adat Morodina bersepakat mendirikan PHKom PEREMPUAN AMAN Morodina sebagai sebuah sarana perjuangan Perempuan Adat dalam mempertahankan Wilayah Adat. Bertempat di Desa Togawa, Kecamatan Galela Selatan, PHKom Morodina dilahirkan oleh 38 Perempuan Adat yang berasal dari komunitas Adat Morodina dan suku Galela. Anggota PHKom Morodina tersebar di dua kecamatan Galela Selatan dan Galela Barat dan 7 desa yang berada di dua kecamatan tersebut, yaitu Desa Gatalamo, Igobula, Soakonora, Togawa, Togawa Besi, Dukulamo dan Ori.
Berdasarkan Temu Anggota pertama, mandat kepengurusan PHKom Morodina diberikan kepada: Ketua: Merdianti.M.Bayan, Sekretaris: Umi Kaisum dan Bendahara: Roada Pidang. Akan tetapi Kepengurusan tersebut tidak berjalan lama, kepengurusan ini kemudian mengalami perubahan karena perlu disesuaikan dengan kesediaan pengurus atau kebutuhan organisasi. Kepengurusan ini bersifat kondisional, bisa kapan saja digantikan atas kesepakatan bersama. Di tahun 2020, kepengurusan baru disepakati, dengan memberikan mandat kepengurusan kepada: Ketua: Umi Kaisum Djabar, Sekretaris: Novita Basyir dan Bendahara: Saida Rinom.
Saat ini, anggota PHKom Morodina berjumlah 44 Perempuan Adat, anggota terbagi menjadi tiga kategori usia. Sebagian besar masuk kategori pemuda sebanyak 52,27% dari jumlah anggota, sedangkan dewasa 40,91% dan lansia (usia lanjut) 6,82%. Dari jumlah anggota tersebut, sebagian besar anggota bekerja sebagai petani, selebihnya bekerja sebagai ibu rumah tangga, Pegawai Negeri Sipil (PNS), pelajar/mahasiswi, karyawan swasta dan lain sebagainya. Di samping memiliki pekerjaan yang bermacam-macam, anggota PHKom Morodina juga memiliki berbagai kecakapan. Kecakapan bertani paling banyak dimiliki anggota, sebanyak 38,64% dari jumlah anggota. kemudian kecakapan mengolah hasil pertanian sebanyak 18,18%. Selain itu, kecakapan penggerak Posyandu sebanyak 18,18% dan penggerak PKK 18,18% dari jumlah anggota.
Beberapa kecakapan yang dimiliki oleh anggota PHKom Morodina tidak lepas dari keberadaan kelompok Perempuan yang berada di kampung atau desa di WP PHKom Morodina. Berdasarkan penilaian anggota, kelompok paling banyak ialah kelompok arisan sebanyak 40,91%, Program kesejahteraan Keluarga (PKK) Sebanyak 25,00% dari jumlah anggota dan kelompok keagamaan 20,45% dari jumlah anggota. Sedangkan kelompok arisan tenaga hanya 9,09%, kemudian Kelembagaan Adat 9,09% dan kelompok lainnya 2,27% (BPD).
Selain itu, dari sisi pengalaman, anggota PHKom Morodina juga memiliki pengalaman menjadi pengurus organisasi sebanyak 20,45% dari jumlah anggota, kemudian pengalaman mengikuti pelatihan juga sebanyak 20,45%. Sedangkan anggota yang pernah menjadi penanggung-jawab pelaksanaan ritual, upacara, perayaan di komunitas Adat sebanyak 6,82%. Kemudian pengalaman ikut aksi unjuk rasa 4,55% dan pengalaman lainnya 2,27% (BPD). Dan terakhir tentang keberadaan kelompok atau tokoh yang dinilai paling berpengaruh bagi anggota PHKom Morodina. Khususnya di kampung atau desa (PHKom Morodina) antara lain: tokoh masyarakat merupakan sosok yang paling memiliki pengaruh yakni sebanyak 29,55% dari jumlah anggota menilai demikian. Kemudian Tokoh agama 27,27%, pejabat/pemerintah setempat 6,82%, Pemangku Adat 4,55% dan paling kecil adalah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) 2,27% dari jumlah anggota.
Wilayah Kelola PHKom Morodina
Telaga
Secara umum, bentang alam PHKom Morodina berupa pesisir, daratan dan pegunungan. Salah satu gunungnya bernama Gunung Tarakani. Selain itu, juga terdapat sungai-sungai kecil yang mengalir melintasi kebun-kebun. Sungai-sungai kecil itu bertemu dalam satu sungai besar yang bernama Sungai Galega dan bermuara di Danau/Telaga Galela yang berada di Kecamatan Galela Selatan. Danau atau sering disebut Telaga biru ini masih berada di Kecamatan Galega. Danau Galega adalah danau terluas di Maluku utara dengan luas 250 ha, ketinggian 23 mdpl, terletak pada koordinat 1°49’6.05 LU dan 127°48’38.46 BT meliputi dua kecamatan, Kecamatan Galela dan Galela Barat. Danau ini dikelilingi 9 desa di antaranya Seki, Togawa, Sukonora, Igobula, Bale, Soatabaru, Dokolamo, Duma dan Goatalamo. Masyarakat lokal mengenal danau ini dengan beberapa sebutan di antaranya Danau Galela, Danau Tarakani atau Telaga Duma.
Danau Galela merupakan bagian dari wilayah kelola PHKom Morodina, karena menjadi tempat mencari ikan terutama dengan cara memancing, jenis ikan yang didapatkan yakni ikan mujair, nila dan lainnya. Kegiatan memancing ikan dilakukan oleh Perempuan Adat maupun laki-laki. Umumnya aktivitas memancing dilakukan siang hari, namun ada juga yang memancing pada malam hari, hasil memancing biasanya untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga, namun ketika hasilnya banyak sebagian dijual. Selain itu, Danau Galega juga menjadi tempat mandi dan mencuci dan kebutuhan harian lainnya. Akan tetapi belakangan ini telaga digunakan membuat keramba ikan sejak tahun 2017 oleh warga sekitar, dimulai hanya ada dua keramba pada tahun 2017, selang setahun keramba bertambah banyak menjadi 26 keramba di tahun 2018.
Kebun, Ladang dan Hutan
Wilayah kelola Komunitas Adat Morodina yang paling utama adalah kebun, secara umum warga mempunyai aktivitas di kebun setiap hari, laki-laki maupun Perempuan. Kebun terbagi menjadi dua jenis, kebun dekat rumah dan kebun hutan (ladang), perbedaan keduanya adalah posisi wilayah/kebun (jarak, bentang alam dan fungsi) dan jenis tanaman yang ditanam. Kebun, berjarak lebih dekat dari rumah.
Di kebun dan di kebun hutan atau ladang, tanaman dibagi menjadi tanaman jangka pendek dan jangka panjang. Tanaman jangka panjang berupa kelapa, pala, cengkeh, aren dan lain sebagainya. Sedangkan tanaman bulanan terdiri dari kacang, tomat, jagung (tongkol/lokal), umbi-umbian (ubi kayu/kasbi, batatas/ubi jalar), cabai dan lain sebagainya. Selain itu, di kebun juga ada jenis tanaman buah-buahan, yaitu semangka, melon dan lainnya. Hasil tanaman kebun sebagian menjadi sumber konsumsi sehari-hari dan juga pendapatan uang tunai.
Sedangkan kebun hutan/ladang adalah kebun yang berada di kawasan hutan atau di dalam hutan, berjarak lebih jauh dari rumah, salah satunya ialah hutan bernama kilometer 19. Di kebun hutan, Masyarakat Adat umumnya menanam kelapa dan padi ladang. Kelapa yang ditanam lebih sering digunakan untuk membuat kopra, yang sebagian besar hasil kopra dijual sebagai salah satu sumber pemasukan ekonomi, sedangkan padi ladang lebih banyak untuk di konsumsi keluarga.
Tanaman yang paling utama di ladang yaitu padi, jenis padi yang ditanam yakni padi Galela, padi lokal yang ditanam dua kali dalam setahun. Biasanya musim tanam dilakukan pada bulan Desember dan Agustus. Ada kebiasaan di mana setiap keluarga memiliki stok bibit yang sengaja disisihkan dari hasil panen sebelumnya dan sering kali satu keluarga dengan keluarga lainnya saling meminjam bibit ketika kekurangan bibit, atau bertukar jenis bibit. Selain padi, di ladang juga terdapat umbi-umbian, buah semangka, tomat, rica/cabai, tebu, pohon aren, bobotene (semacam gandum) dan seterusnya.
Bobotene merupakan salah satu tanaman istimewa Halmahera, karena Bobotene merupakan bahan baku membuat makanan khas yang banyak disukai, yakni wajik. Selain bobotene, bahan baku membuat wajik yaitu gula aren dan kelapa. Wajik dibuat sebagai salah satu hidangan yang diharapkan semua orang disela-sela waktu istirahat saat panen padi ladang. Selain hidangan wajik, padi biasanya dipanen berbarengan dengan buah semangka, tebu dan juga bobotene, pisang, batatos dan lain sebagainya. Berbagai tanaman tersebut menambah semangat di kala sedang panen padi, orang yang membantu panen sering kali di persilahkan memanen tanaman tersebut, untuk di cicipi atau dibawa pulang.
Pada dasarnya, tidak ada batasan jenis tanaman apa yang ditanam di kebun maupun di ladang atau di wilayah kelola komunitas Adat Morodina. Prinsip berkebun dan ladang, di samping tanaman utama, ada berbagai jenis tanaman yang bertujuan untuk mencukupi segala kebutuhan sendiri terlebih dahulu, setelah itu berbagi dengan saudara dan tetangga. Akan tetapi, di samping itu tetap menghasilkan uang. Untuk mendapatkan uang, sering kali Perempuan Adat secara langsung menjual hasil bercocok tanam di pasar, terutama sayuran. Uang tunai juga bisa didapatkan dari hasil tanaman kelapa, cengkeh, pala, dan aren. Terutama aren yang diolah sendiri menjadi gula dan cenderung menghasilkan karena harganya cukup stabil dan pasarnya mudah.
Pengetahuan Perempuan Adat
Selain pengetahuan berkebun dan ladang, Perempuan Adat juga memiliki pengetahuan sekaligus keahlian membuat anyaman menggunakan bahan yang disebut daun kulewe, semacam daun pandan hutan. Kelewe diolah menjadi bahan anyaman membuat berbagai barang, seperti tikar, nyiru/sisiru (Panapis,atau tampian/alat rumah tangga berbentuk bundar), Aya-aya, tolutopi, Saloi, termasuk barang pajangan. Tanaman kulewe merupakan tanaman liar yang tumbuh di hutan atau di kebun dan ladang. Namun, belakangan ini tanaman tersebut sudah dibudidayakan oleh banyak orang. Membuat anyaman sangat identik dengan pekerjaan perempuan, yang dikerjakan disela-sela waktu mengurus rumah, keluarga, kebun, ladang dan aktivitas sosial lainnya. Kerajinan tikar Perempuan Adat Morodina ialah salah satu bentuk dari pengetahuan yang dimiliki oleh Perempuan Adat Morodina. Kerajinan ini cukup dikenal, bahkan hingga menjadi salah satu barang yang di ekspor keluar negeri.
Tikar lekat dengan nilai kultural Komunitas Adat Morodina, karena tikar ini menjadi atribut atau simbol yang penting pada acara pernikahan dan kematian. Pada acara pernikahan, tikar dan cendra mata dan lainnya merupakan barang-barang yang mesti ada. Selain itu, ketika ada yang meninggal, seorang anak atau menantu wajib menyediakan tikar yang menjadi pembungkus mayat kedua setelah kain kafan, tikar ikut dikubur bersama mayat. Akan tetapi, belakangan ini tidak banyak yang membuat tikar dan barang-barang anyaman lainnya. Selain karena bahan baku yang sudah mulai berkurang, waktu Perempuan Adat banyak tersita pada pekerjaan lain, mengurus rumah tangga, kebun, ladang, berjualan sayuran di pasar dan lain sebagainya. Sudah jarang yang membuat anyaman, akibatnya kini harga kerajinan anyaman cukup mahal, dalam satu tikar dengan lebar 2 meter dan panjang 3 meter orang berani membayar 2 juta bahkan lebih. Satu tikar dengan ukuran tersebut dibuat dalam waktu paling lama satu bulan, yang dikerjakan disela-sela waktu pekerjaan lain.
Pemenuhan Kebutuhan Pangan
Berdasarkan hasil penggalian data kuesioner yang dilakukan PHD Makalega di Komunitas Adat Morodina, terkait bagaimana berbagai pemenuhan kebutuhan komunitas, seperti kebutuhan pangan, lauk-pauk, sayuran, buah-buahan dan air. Pemenuhan pangan Komunitas Adat Morodina sebagian besar dihasilkan dari hasil tanam sendiri (subsisten), berbagai jenis pangan yang sering di konsumsi Komunitas Adat Morodina yakni beras, sagu, umbi-umbian dan jagung. Dari berbagai jenis pangan tersebut, Komunitas Adat Morodina sebagian besar mengonsumsi beras (94,4%), terutama beras ladang, mengonsumsi sagu (94.4%). Begitu juga dengan jagung dan umbi-umbian yang memiliki proporsi sama dengan beras ladang dan sagu, keempat pangan ini menjadi pangan yang utama bagi Komunitas Adat Morodina. Keempat jenis pangan tersebut diperoleh dari hasil tanam di kebun sendiri atau bagi hasil menggarap kebun milik saudara atau tetangga.
Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan harian, seperti lauk, sayuran dan buah-buahan, komunitas Adat Morodina sangat cukup hanya dengan mengandalkan hasil kebun. Hasil ladang juga cukup menyumbang pemenuhan kebutuhan harian (77,8%) dan juga hasil laut (88,9%), termasuk sawah serta sungai sebagai sumber alternatif. Misalnya saja lauk-pauk yang didapatkan dari hasil memancing sebagai aktivitas sehari-hari dan hanya sebagian kecil memenuhi kebutuhan lauk-pauk dengan cara membeli. Begitu juga dengan pemenuhan kebutuhan sayur, sebagian besar dihasilkan dari kebun (94,4%) dan sebagian kecil (16,7%) kebutuhan sayuran didapatkan dari ladang, sawah, hutan dan rawa. Sedangkan kebutuhan buah-buahan juga sebagian besar dihasilkan dari kebun (94,4%), termasuk ladang, sawah, rawa dan hutan juga menghasilkan kebutuhan buah-buahan, meskipun hanya sebagian kecil.
Kemudian kebutuhan air bagi komunitas Adat Morodina, dalam satu keluarga kebutuhan air diperkirakan membutuhkan 100 liter per hari. Air didapatkan dengan akses cukup dekat, berkisar 1 sampai 100 meter. Pemenuhan kebutuhan air pada musim hujan dan musim kemarau berbeda. Pada musim hujan, sebagian besar warga mendapatkan air dari ledeng (layanan air komersil) yang menggunakan meteran kubik (94,4%). Selain itu, sebagian kecil memanfaatkan sumur dan masih terbilang jarang yang memiliki sumur bor. Termasuk jarang juga yang menggunakan air isi ulang (galon) 11,1%. Sedangkan pada musim panas, pemenuhan kebutuhan air tetap bersumber pada sumber yang sama dengan musim hujan dengan persentase yang sama pula. Hanya saja pada musim panas, terdapat peningkatan pembelian air isi ulang, dari 11,1% menjadi 22,2% dan pada musim panas penggunaan air kemasan sebanyak 16,7% untuk konsumsi keluarga. Selain untuk kebutuhan manusia, kebutuhan air untuk binatang ternak juga terpenuhi dari air ledeng, termasuk untuk menyiram tanaman.
Masalah-masalah yang dihadapi PHKom Morodina
Pencemaran Air
Seperti yang sudah dikatakan di atas, jenis usaha keramba ikan makin lama semakin menjamur di Danau Galega, hal itu merupakan salah satu penyebab air tidak lagi layak untuk di konsumsi. Penyebab lainnya ialah penambahan populasi, urbanisasi dan modernisasi menimbulkan masalah limbah yang dibuang ke perairan, sungai dan danau. Semenjak itu juga, permukaan Danau Galela hampir dipenuhi dengan tanaman eceng gondok. Pertumbuhan eceng gondok dimungkinkan tumbuh karena banyaknya limbah organik yang masuk ke danau. Termasuk Pencemaran sungai, terutama disebabkan oleh pembuangan limbah rumah tangga, sebagian besar (94,4%) limbah dibuang melalui got/solokan berupa limbah cair.
Banjir Setiap Musim Hujan
Halmahera Utara secara bentang alam berada di hilir dari wilayah hulu yakni Halmahera Barat yang dikenal dengan banyak pertambangan emas dan konsesi pertambangan lainnya. Karena itu, menjadi penyebab kerugian di wilayah hilir, bahkan merenggut nyawa. Kejadian tersebut tidak lepas dari wilayah hulu yang tidak lagi memiliki sabuk pengaman alam, yaitu hutan. Banjir terjadi dalam rentang waktu lima tahun belakangan ini. Setiap kali datang musim hujan yang cukup panjang. Sungai-sungai yang ada tidak mampu lagi menampung air hujan, juga kenaikan permukaan air laut. Sehingga air meluap ke berbagai arah, ke pemukiman, fasilitas umum, termasuk kebun-kebun warga mengalami kerusakan akibat air luapan dari sungai dan laut. Segala jenis tanaman yang ada di kebun mengalami kerusakan parah, bahkan tidak bisa diharapkan lagi, termasuk pagar kebun, persemaian dan gubuk kebun ikut rusak akibat banjir. Berdasarkan berita yang dimuat kompas regional, banjir yang terakhir terjadi di awal tahun 2021, ratusan warga mengungsi karena banjir telah merendam ratusan rumah di empat kecamatan, Kecamatan Galela, Galela Barat, Kao Barat dan Loloda.
Termasuk kebun kolektif PHKom Morodina, tidak ada tanaman yang tersisa, hampir semuanya rusak. Karena itu, muncul inisiatif dari salah satu anggota PHKom Morodina, meminjamkan kebun miliknya untuk di jadikan kebun kolektif. Akan tetapi kebun tersebut berjarak cukup jauh dari kebun sebelumnya dan tidak banyak anggota PHKom Morodina yang punya cukup waktu untuk pergi ke kebun tersebut. Butuh sekitar 2 jam lebih untuk tiba di kebun kolektif yang baru, sedangkan kebun sebelumnya hanya butuh waktu 30 menit.
PEREMPUAN AMAN
- Jl. Sempur Kaler No.6, RT.04/RW.01, Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16129
- +62 811 920 2062
- rumah-pa@perempuanaman.or.id
AMAN
- Jl. Tebet Timur Dalam Raya No.11 A, RT.8/RW.4, Tebet Tim., Kec. Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12820
- (021) 8297954
PEREMPUAN AMAN
- Jl. Sempur Kaler No.6, RT.04/RW.01, Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16129
- +62 811 920 2062
- perempuanaman@aman.or.id
AMAN
- Jl. Tebet Timur Dalam Raya No.11 A, RT.8/RW.4, Tebet Tim., Kec. Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12820
- (021) 8297954

